Remaja bagi Kristus











{October 27, 2009}   E. SEKSUALITAS REMAJA

HAWA NAFSU

Saat memasuki masa remaja, manusia mengalami kematangan seksual. Pertumbuhan fisik yang cepat dan mulai berfungsinya organ-organ seks secara maksimal membangkitkan kegairahan seksual yang luar biasa. Itulah sebabnya hawa nafsu remaja begitu berkobar-kobar. Jika tidak dikendalikan akan menjadi perilaku-perilaku seksual yang berbahaya.

Menurut McDowell (1996), berkobarnya hawa nafsu remaja juga disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut

  • Perubahan hormonal yang cepat
  • Pengaruh lingkungan yang buruk
  • Rasa ingin tahu yang besar akan hal-hal seksualitas
  • Usaha untuk mencari jati diri
  • Usaha untuk mencoba sebuah hubungan intin antar lawan jenis

ONANI DAN MASTURBASI

Menurut Concise Oxford English Dictionary, masturbation (untuk pria onani) adalah tindakan to stimulate one’s genitals with one’s hand for sexual pleasure.(merangsang alat kelamin dengan tangan sendiri untuk mendapatkan kepuasan atau kesenangan seksual). Tentunya masturbasi bisa dilakukan dengan banyak variasi.

Menurut riset Alfred Kinsey sebagaimana dikutip McDowell (1996), 93 persen pria dan 62 persen wanita pernah melakukan masturbasi. Survei yang dilakukan Universitas Chicago dan New York Times atas 3.423 orang Amerika yang berusia antara 18 tahun sampai 59 tahun menunjukkan bahwa 60 persen pria dan 40 persen wanita pernah melakukan masturbasi.

Penyebab remaja melakukan masturbasi menurut McDowell (1996) adalah

  • Perubahan psikologis remaja
  • Kurangnya pendidikan seksual

PORNOGRAFI

Menurut Concise Oxford English Dictionary, pornography adalah printed or visual material intended to stimulate sexual excitement (cetakan atau materi visual yang bersifat merangsang kenikmatan seksual). Variasinya banyak sekali, apalagi dengan adanya teknologi internet.

Pornografi berkembang sangat pesat seperti beberapa informasi yang didaftarkan McDowell (1996, hal 271) berikut ini:

  • Menurut U.S. Senate Judiciary Committee, jumlah buku-buku porno (adult bookstores) lebih banyak daripada restoran-restoran McDonald
  • Pada 1995, Carnegie Mellon University di Pittsburg, Pennsylvania menemukan lebih dari 1 juta tayangan pornografi yang bersifat online
  • Menurut riset Dr. Jennings Bryant  atas 600 remaja ditemukan bahwa 91 persen pria dan 82 persen wanita pernah melihat atau menikmati pornografi
  • Dalam sebuah survey atas 3.765 remaja aktivis gereja, ternyata 1 dari 6 orang di antara mereka pernah menikmati pornografi

Menurut McDowell (1996), penyebab remaja jatuh dalam pornografi adalah

  • Rasa ingin tahu yang sangat besar
  • Obsesi
  • Dehumanisasi seks. Penulis Alexandra dan Vernon H. Mark mengatakan, ”One answer is that sex…has been dehumanized. It is not regarded as a loving, responsible relationship, but as a sport, and in that light it is not surprising that intercourse and the sexual organs should be thought to be fit for viewing.

Akibat dari keterlibatan dengan pornografi adalah (McDowell, 1996, hal 272)

  • Remaja mengalami ketagihan seksual
  • Remaja melakukan penyimpangan perilaku seksual. Dua pertiga pria dan 40 persen wanita penikmat pornografi cenderung ingin mempraktekkan perilaku seks seperti apa yang ditontonnya itu.
  • Remaja tidak menghormati harkat dan martabat kaum wanita
  • Remaja mempunyai pengharapan yang tidak realistic
  • Remaja merasa bersalah, malu, dan takut

HUBUNGAN SEKS PRANIKAH

Mengenai kasus-kasus hubungan seks pranikah di kalangan remaja, Josh McDowell (1996) mencatat data-data riset sebagai berikut.

  • Menurut riset George Barna, hanya 23 persen dari generasi pasca generasi bom bayi (baby boomer generation = generasi yang lahir setelah Perang Dunia II) yang mengaku masih jejaka/perawan sebelum menikah.
  • Sebanyak 47 persen bayi yang lahir sampai tahun 1992 lahir dari ibu yang tidak menikah
  • Menurut riset New York Times, 3/4 kaum wanita telah melakukan hubungan seks pranikah sejak masa remaja mereka dan 15 persen di antaranya melakukan hubungan seks dengan 4 atau lebih teman kencan
  • Semakin hari orang semakin dini melakukan hubungan seks pra nikah
    • Pada tahun 1960, rata-rata remaja pertama kali melakukan hubungan seks pranikah pada usia 19 tahun
    • Pada tahun 1990, rata-rata remaja pertama kali melakukan hubungan seks pranikah pada usia 17 tahun
  • Menurut riset Dr. Liana Clark, 27 persen remaja melakukan hubungan seks pranikah pada usia 18 tahun

Bagaimana dengan perilaku seksual para remaja aktivis gereja? Menurut riset yang dilakukan Josh McDowell dan Bob Hostatler sebagaimana dicantumkan dalam McDowell (1996, hal 281) ditemukan fakta perilaku seks remaja gereja usia 17-18 tahun sebagai berikut:

  • 95 persen berpacaran dengan bergandengan tangan
  • 86 persen berpacaran dengan melakukan pelukan
  • 74 persen berpacaran dengan melakukan french kissing (a kiss with contact between tongues – Concise Oxford English Dictionary)
  • 55 persen berpacaran dengan meraba-raba buah dada
  • 44 persen berpacaran dengan meraba-raba alat kelamin
  • 27 persen berpacaran dengan melakukan hubungan seksual

Menurut Josh McDowell (1996), ada beberapa penyebab remaja melakukan hubungan seks pranikah yaitu

  • Pendidikan yang salah
  • Pendidikan seks yang kurang atau salah
  • Hubungan-hubungan sosial yang salah
  • Pacaran yang terlalu dini
  • Tekanan dari teman-teman remaja yang lain
  • Kecanduan obat terlarang
  • Keinginan mempunyai anak

KEHAMILAN YANG TIDAK DIHARAPKAN

Resiko melakukan hubungan seks pranikah adalah kehamilan yang tidak direncanakan. Menurut McDowell (1996), kehamilan tak direncanakan menyebabkan hal-hal berikut

  • Penolakan
  • Ketakutan
  • Rasa bersalah
  • Rasa malu
  • Penyesalan mendalam

Untuk menghindari kehamilan yang tak direncanakan itu, remaja melakukan hubungan seks dengan memakai alat-alat kontrasepsi sebagai berikut (riset Family Planning Perspectives vol 18, Sept-Okt 1986)

  • Remaja usia di bawah 18 tahun melakukan hubungan seks dengan kontrasepsi jenis pil (11 persen), IUD (10,5 persen), kondom (33,9 persen), diafragma (31,6 persen), spermicides (34 persen)
  • Remaja usia 18-19 tahun melakukan hubungan seks dengan kontrasepsi jenis pil (9,6 persen), IUD (9,3 persen), kondom (16,3 persen), diafragma (28,3 persen), spermicides (34 persen)

ABORSI

Kehamilan di luar pernikahan yang tidak direncanakan menyebabkan remaja melakukan abosti (abortion). Berikut adalah data yang dikumpulkan Josh McDowell (1996) berkenaan dengan masalah aborsi di Amerika Serikat

  • Menurut riset Guttmacher Institute, 1 dari  remaja yang mengalami hamil di luar nikah memilih melakukan aborsi
  • Tiap tahun, 50 persen dari 1 juta remaja AS yang hamil di luar nikah melakukan aborsi
  • Menurut Dr. M. Balfin, kasus aborsi yang dilakukan remaja di AS paling besar di seluruh dunia
  • Di Amerika Serikat ada 4.000 kasus aborsi setiap hari
  • Di Kanada ada 70.000 kasus aborsi setiap tahun
  • Di Inggris ada 180.000 kasus aborsi setiap tahun

Menurut McDowell (1996), perilaku aborsi dilakukan remaja karena faktor-faktor sebagai berikut:

  • Krisis seksualitas dalam kehidupan remaja
  • Ketersediaan sarana dan prasarana (fasilitas) untuk melakukan aborsi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: